Serat kayu alami dari pohon genemo merupakan material utama yang dipintal dan dianyam secara tradisional oleh para wanita Papua untuk membuat tas noken yang sangat ikonik. Kerajinan tangan khas masyarakat tanah Papua ini memegang peranan penting dalam kehidupan sosial budaya serta menjadi simbol kehidupan, kesuburan, dan kearifan lokal. Proses menganyam dilakukan sepenuhnya menggunakan jemari tangan tanpa bantuan alat mesin modern, sehingga menghasilkan anyaman tas yang sangat kokoh dan elastis. Keindahan seni kriya adiluhung ini telah diakui oleh lembaga kebudayaan dunia UNESCO sebagai warisan budaya takbenda milik bangsa Indonesia. Keunikan noken sangat dikagumi.
Tahapan pembuatan kerajinan tas tradisional ini dimulai dari proses pengambilan kulit kayu bagian dalam dari pohon genemo atau pohon anggrek hutan secara bijaksana. Kulit kayu tersebut kemudian ditumbuk hingga halus, dikeringkan di bawah sinar matahari, lalu dipintal menjadi helai-helai benang benang serat yang sangat kuat dan lentur. Benang serat kayu alami tersebut selanjutnya diwarnai menggunakan bahan pewarna alami yang berasal dari perasan buah-buahan hutan dan tanah liat berwarna. Para mama-mama Papua kemudian menganyam serat benang tersebut secara melingkar menggunakan teknik rajut khusus hingga membentuk kantong tas fleksibel yang indah. Pengerjaan manual ini membutuhkan kesabaran tinggi.
Ciri khas unik dari tas berbahan serat kayu ini terletak pada kekuatan fisiknya yang luar biasa dan kemampuannya untuk mengembang menyesuaikan dengan volume barang yang dibawa. Masyarakat Papua biasa membawa noken dengan menyangkutkan bagian tali tas di atas kepala untuk memuat hasil perkebunan, kayu bakar, hingga barang belanjaan harian. Penggunaan bahan alami ramah lingkungan ini membuat noken sangat tahan lama dan mudah terurai kembali secara alami jika sudah tidak digunakan lagi. Wisatawan yang berkunjung ke Papua sangat mengagumi kerumitan motif Rajutan serta nilai filosofis yang terkandung di dalam setiap helai anyaman noken Papua ini. Tas etnik ini sangat berharga.
Perkembangan industri kriya etnik mendorong para pembuat noken di Papua untuk berinovasi menciptakan variasi noken berukuran kecil untuk dompet, tas laptop, dan aksesori fashion harian. Pemasaran produk kerajinan ini kini telah menjangkau berbagai kota di luar pulau Papua melalui bantuan platform media sosial dan galeri kerajinan nasional. Dukungan dari pemerintah daerah dalam memfasilitasi pameran kerajinan tangan membantu meningkatkan taraf hidup perekonomian para mama-mama pengrajin di desa pedesaan. Peningkatan permintaan tas etnik ini membuktikan bahwa produk kerajinan tradisional Papua memiliki potensi pasar yang sangat besar. Ekonomi masyarakat pedalaman ikut terangkat.
Melestarikan keahlian menganyam berbahan serat kayu alami untuk pembuatan noken merupakan tugas kebudayaan kita bersama dalam menjaga keberagaman karya kriya nusantara. Tas noken bukan sekadar alat pembawa barang biasa, melainkan cerminan ikatan kasih sayang dan identitas kebudayaan masyarakat Papua yang sangat tinggi nilainya. Pembinaan kepada generasi muda Papua untuk meneruskan keterampilan menganyam ini sangat penting agar keahlian tradisional ini tidak hilang ditelan zaman. Mari kita dukung keberlanjutan tradisi ini dengan bangga membeli dan menggunakan tas noken asli buatan pengrajin Papua sebagai wujud rasa cinta kita pada kebudayaan nasional.
